Thursday, February 4, 2016
Tuesday, October 27, 2015
Memori Hotel Karpet (Sebuah bagian renyah perjalanan dari Pekanbaru-Phuket-Hatyai-Penang)
Waw, nggak kerasa setelah Maret
2014 yang lalu, saya bareng keluarga (anak dan istri) menjalani trip murah ke
Bangkok, September 2015 yang lalu kami kembali jalan-jalan ke luar negeri, yakni
ke Phuket, Thailand dan Pulau Penang Malaysia. Nggak nyangka aja, selama tiga
tahun berturut-turut mulai dari 2013, 2014 dan 2015, kami bisa merutinkan
tradisi jalan-jalan kami, walaupun untuk itu, kami mesti ikat pinggang
kencang-kencang dalam mengatur keuangan.
Seperti tahun 2014, kepergian
saya bareng keluarga kali ini ditengah bencana kabut asap yang saban tahun
melanda Riau, dan beberapa provinsi di Sumatera. Satu sisi, jalan-jalan kami kali ini adalah
langkah kanan bagi kami, karena selain liburan, juga sekaligus upaya ‘lari’
dari kepungan asap yang tidak bersahabat. Namun, disisi lain, gara-gara asap
itu pula, saya dan istri sempat harap-harap cemas akan kepastian penerbangan kami
ke Kuala Lumpur. Soalnya, tepat pada Senin pagi (Tujuh September 2015) sekitar
pukul Delapan pagi, kabut asap sedang tebal-tebalnya. Jarak pandang saat itu
tidak lebih dari seratus meter saja. Dengan jarak pandang sedekat itu,
dipastikan tidak akan ada aktivitas penerbangan di Bandara, karena dalam
standarnya, aktivitas take off dan landing pesawat dapat dilakukan jika jarak
pandang diatas 1000 hingga 1500 meter.
Kecemasan kami bertambah, ketika
sampai di Bandara, belum ada keterangan resmi dari pihak maskapai akan status
penerbangan kami. Namun, dari maskapai lain kebanyakan meniadakan penerbangan
hari itu. Hingga pukul Sepuluh kurang, barulah kecemasan kami berkurang, ketika
terdengar suara operator bandara meminta penumpang pesawat Garuda untuk segera
menaiki pesawat.
Akhirnya, sesuai jadwal
penerbangan kami pada pukul 10.50 WIB, kami pun akhirnya bisa terbang. Salut
juga sama pilot Air Asia, yang berani mendaratkan pesawat ditengah jarak
pandang sedemikian resikonya saat itu. Ya, sebagai informasi, bahwa pesawat Air
Asia yang kami tumpangi, sebelum membawa kami, baru saja mendarat membawa
penumpang dari Kuala Lumpur. Dengan jarak pandang tidak lebih dari 1000 meter,
hanya Air Asia yang berani Landing di Pekanbaru pada pagi itu.
Apalagi, durasi penerbangan kami
saat itu termasuk cepat, 20 menit lebih awal dari rata-rata penerbangan normal.
Nggak tau apa sebabnya, yang jelas kami mendengar informasi itu dari kru
pesawat saat akan landing di KLIA 2 Kuala Lumpur.
Akhirnya, sampai juga kami di KLIA 2, Bandara Internasional
yang baru saja beroperasi selama setahun di Malaysia. Sempat takjub juga dengan
bandara ini, karena memang lebih luas dan rapi dibanding dengan KLIA dan LCCT.
Disinilah kemudian cerita perjalanan kami dimulai.
8 Jam Menunggu terbang Ke Phuket
Fly To PhuketBermalam di Hotel Karpet d Phuket
Hampir Pukul Sebelas malam, kami sampai di Kota Phuket. Bersyukur, karena penerbangan dua jam lebih akhirnya berujung juga. sampai di Phuket, Bandara kota Phuket, yang namanya Berbahasa Thailand,
Go To Patong
This Patong, My daughter !
Thursday, August 28, 2014
Kepak Sayap AirAsia, Kepak Sayap Kehidupan Saya
Tak berselang
lama usai lebaran tahun ini, saya mengunjungi seorang kerabat yang sedang
berada dalam tahanan kepolisian. Terjadi pembicaraan dari hati ke hati antara
saya dan kerabat tadi, mulai dari kondisinya menjalani masa tahanan, kondisi
keluarga yang ia tinggalkan, hingga mengalir dengan sendirinya, ia meratap
tentang rencananya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik usai “ditempa”
dibalik jeruji besi.
Ingin berubah
dari kehidupan yang serba kelam ke kehidupan yang lebih baik, adalah sebuah
pengartian dari kerabat saya tadi, terhadap apa yang dinamakan dengan perubahan
dalam hidup. Menurutnya, merubah hitam menjadi putih, dari yang serba tidak
teratur menjadi teratur, dari nakal menjadi baik, dari seorang penjudi menjadi
seorang yang rajin mengaji, adalah bentuk perubahan hidup yang akan
dijalaninya. Berada dibalik jeruji besi, membuatnya menemukan titik balik ke
arah yang lebih baik.
Banyak orang
mengartikan perubahan hidup dengan orientasi yang berbeda-beda. Ada yang
berorientasi pada nilai-nilai kematerian, karir dan jabatan, hingga orientasi
pada sisi religi ketuhanan atau keimanan. Saya sendiri, tak ingin melangit mendefinisikan
sebuah perubahan hidup. Secara sederhana, perubahan hidup bagi saya adalah
perubahan dari hal-hal kecil yang membawa manfaat baik bagi saya dan juga orang
lain.
Berbicara tentang perubahan dalam hidup, AirAsia Airline telah membawa saya menemukan perubahan dalam hidup itu. Maskapai penerbangan dengan warna dominan merah tua itu, telah banyak memberikan perubahan dalam hidup saya pribadi dan keluarga. Mulai dari perubahan gaya hidup, pola hidup, prinsip hidup, dan dari itu semua saya merasakan hidup ini lebih bermakna.
Berbicara tentang perubahan dalam hidup, AirAsia Airline telah membawa saya menemukan perubahan dalam hidup itu. Maskapai penerbangan dengan warna dominan merah tua itu, telah banyak memberikan perubahan dalam hidup saya pribadi dan keluarga. Mulai dari perubahan gaya hidup, pola hidup, prinsip hidup, dan dari itu semua saya merasakan hidup ini lebih bermakna.
Perubahan gaya
hidup, saya rasakan setelah dua tahun belakangan saya dan keluarga rutin
berlibur keluar negeri bersama AirAsia. Padahal, sebelum mengenal maskapai yang
enam tahun berturut-turut menyabet penghargaan World Best Low Cost Airline itu, istilah liburan tidak ada dalam
kamus hidup saya. Bahkan, menaiki pesawat terbang saja adalah aktivitas langka
bagi saya dan keluarga. Sebelum mengenal AirAsia, hanya satu kali saya pernah
terbang dengan pesawat, itupun berkat fasilitas yang saya dapatkan dari
organisasi yang saya ikuti semasa kuliah dulu.
Nah, setelah
mengenal AirAsia sejak pertengahan 2012, barulah saya rasakan gaya hidup yang
sedikit meningkat. Setiap tahun, walaupun hanya sekali, saya dan keluarga kecil
saya pergi liburan ditemani AirAsia. Mei 2013, kami sekeluarga berlibur ke
Kuala Lumpur, Malaysia. Dilanjutkan Maret 2014 yang lalu, saya, istri, dan
seorang putri kami, liburan ke Bangkok, Thailand. 2015 mendatang, kami sudah
merencanakan untuk kembali liburan, walaupun destinasinya belum kami matangkan.
Perubahan gaya
hidup, belum apa-apa bagi saya jika dibandingkan dengan perubahan pola hidup
yang saya rasakan, setelah acapkali keluar negeri. Bepergian keluar negeri,
memberi saya begitu banyak inspirasi dan motivasi untuk hidup lebih sehat,
lebih teratur, lebih disiplin, dan masih banyak lagi. Sebagai bukti, sudah lima
bulan ini saya ‘pensiun dini’ sebagai perokok. Selain dalil kesehatan yang
hukumnya pasti, perjalanan liburan di Thailand Maret lalu cukup memberi
motivasi bagi saya untuk berhenti dari aktivitas
‘membakar uang’ dan menyakiti diri sendiri itu.
Bagi seorang
perokok, berada di Thailand, seperti berada di neraka yang paling dalam. Dikucilkan,
diisolasi, tak jauh beda seperti anak tiri. Orang-orang disana, seolah-olah telah
di doktrin agar menjauhi perokok. Ditambah
lagi harga rokok pun dipatok hampir tiga
kali lipat dari harga di Indonesia. Sampai-sampai saya berkontemplasi dan
akhirnya berhenti pada satu titik pencarian jawaban, bahwa inilah ciri
masyarakat negara maju. Masyarakat dimana secara kolektif mereka care akan kesehatan pribadi dan orang
lain; masyarakat yang menempatkan kesehatan sebagai kunci dari produktifitas
dan kebahagiaan; masyarakat yang amat menghargai waktu dan mengharamkan
sepersekian detikpun terbuang sia-sia, apalagi hanya untuk aktivitas menyakiti
diri.
![]() |
| Jajanan di Walking Street Pattaya, Thailand. Ada Kalajengking, ulat, kecoa, dll. |
Akhirnya,
sekembali dari ‘neraka’ itu, tak butuh lama-lama bagi saya untuk berhenti
merokok. Kendati butuh perjuangan yang keras untuk itu, Alhamdulillah, hampir
setengah tahun ini saya menyandang status alumni dari golongan perokok. Walaupun
nampaknya sepele, perubahan ini telah membawa arti yang besar baik bagi
kesehatan, kehidupan sosial, dan tentunya ekonomi keluarga. Dan perubahan ini,
tak akan datang dengan sendirinya, jika ‘si burung besi’ AirAsia tidak
menerbangkan saya kesana.
Sejumlah
pengalaman juga saya temui selama diluar negeri, yang beberapa diantaranya
memberikan perubahan bagi saya dalam memaknai kehidupan ini. Salah satu
pengalaman bermakna, yakni saat saya bersama keluarga hendak menuju bandara Don
Mueang,
Thailand. Pagi itu, kami bertiga sedang menunggu bus kota, di kawasan perhentian bus di sekitar Chatuchak Park, Bangkok. Memang, kami sedikit kebingungan
karena tidak tahu bus dari arah mana yang harus digunakan menuju Bandara. Mendapati
warga pendatang yang kebingungan seperti kami, tiba-tiba datang seorang
bapak-bapak dengan memegang sebungkus makanan, hendak menolong kami. Setelah
mengetahui tujuan kami, pria paruh baya tersebut, dengan sigap membantu
menggendong anak saya ke sebuah bus yang
hendak berangkat. Dengan berlari, saya lihat sendiri betapa ia tidak
menghiraukan makanan yang ia pegang, sehingga makanan tersebut berceceran ke
aspal. Dari atas bus yang mulai berjalan pelan, saya sempatkan mengucapkan terimakasih
kepada bapak tadi, yang saya lihat kembali ke sebuah kios jajanan. Sepertinya,
ia akan membeli lagi sebungkus makanan pengganti makanannya yang sebelumnya tercecer
saat menggendong anak saya. Bagi saya, sulit untuk melupakan momen tersebut
dari ingatan. Bahkan, kenangan itu terus membekas dan memberi pelajaran
berharga, akan pentingnya membantu orang yang lemah, tanpa memandang apapun
kondisi kita saat itu.
![]() |
| Saat baru naik bus menuju Bandara Don mouang Bangkok |
Sebagai peraih Excellent Servis Experience Award 2014,
AirAsia saya nilai juga berhasil menanamkan pola hidup teratur bagi setiap
konsumennya, melalui program tiket promonya. Setiap periode promo yang
diberikan, AirAsia selalu menyediakan rentang waktu yang cukup lama, baik itu untuk masa booking dan
masa terbang. Dengan skema penjualan seperti itu, setiap konsumen jelas
diuntungkan dari segi waktu, karena diberikan kesempatan untuk menabung sebagai
persiapan liburan. Nah, dalam masa menabung itulah, keteraturan dalam
menyisihkan uang, mengatur pengeluaran, benar-benar saya rasakan dan sekarang
telah menjadi sebuah kebiasaan.
Akhirnya, tidak
berlebihan kiranya jika AirAsia saya
anggap sebagai sayap bagi perubahan-perubahan positif dalam hidup saya. Kepak
sayap AirAsia, adalah kepak sayap perjalanan hidup saya. Dengan semangat
menerbangkan banyak orang yang tercermin lewat taglinenya “Sekarang, Semuanya
Dapat Terbang”, saya yakin AirAsia Airline akan banyak dikenang banyak orang,
sekarang maupun akan datang. Tahniah Satu Dasawarsa AirAsia !
Saturday, May 10, 2014
Bipro Magazine.com ; Pemenang Di Level New Entry
Sepertiga akhir Maret baru-baru ini, saya dan keluarga kecil saya pergi berlibur ke negeri Gajah Putih Thailand.Selain ingin lari dari kepenatan dan rutinitas harian, tujuan kami berlibur saat itu, jelas ingin membuka cakrawala pemikiran dan tentunya pengalaman tentang bagaimana negeri orang.
Sangat jauh tertinggal. Kira-kira inilah kesimpulan saya pribadi terhadap posisi negeri ini dibanding dengan dua negara asia yang saya kunjungi; Malaysia dan Thailand. Banyak hal kita tertinggal, semisal penggunaan Mass Rapid Transit (MRT), yang mana Jakarta baru menerapkannya pada 2014, sementara mereka sudah puluhantahun yang lalu memakainya.
Kesadaran kita akan kebersihan, kesehatan,serta kepekaan social terhadap orang dan lingkungan kita juga sangat rendah dibanding dengan mereka. Decak kagum bercampur malu, sempat saya rasakan kala saya disana.Saya tertegun, bahwa memang benar kata orang “rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah sendiri”.
Namun demikian, kebanggaan saya akan negeri ini tak sepenuhnya bias. Saya berdecak kagum bahkan sempat tak percaya ketika mengetahui bahwa Indonesia yang berpenduduk hampir 260 juta jiwa ini adalah negarake-Delapan terbesar pengguna internet di
Sebelumnya, saya sempat tidak tahu bahwa pengguna terbesar facebook ketiga di dunia adalah Indonesia denganjumlah 43,060,360 pengguna.Tidak hanya itu, Indonesia juga pengguna terbesar twitter nomor Lima di dunia di bawah US, Brazil, UK dan Japan.
Perkembangan pengguna internet di Indonesia ini diikuti pula oleh perkembangan dan tumbuhnya situs-situs internet lokal yang memiliki rangking yang tinggi berdasarkan situs pemberi ranking Alexa. Kaskus.co.id dan detik.com saat ini menempati ranking ke- Tujuh dan Delapan dalam jajaran top situs di Indonesia. Memang, keduanya butuh waktu dan proses untuk menapaki pamor di ranah top sites global rank, dimana kaskus.co.id baru menempati posisi 262 dunia, sementara detik.com berada pada ranking ke-317 dunia.
Penetrasi yang tinggi di bidang teknologi informasi di Indonesia, diramalkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan portal dan web yang kian tak terbendung, pastilah melahirkan portal dan web unggulan yang memiliki rating dengan total kunjungan dan pageviews tertinggi. Apalagi, masing-masing pemain dari awal sudah mengazamkan diri untuk menjadi situs nomor satu di level dan lingkupnya, tak terkecuali situs berita Bipro-magazine.
Situs Bi-Pro Magazine, Pemenang Di Level New Entry
Kendati terbilang sebagai pendatang baru, situs Bi-Pro Magazine memang berpeluang besar mencuri perhatian dunia maya tanah air. Mengambil lingkup tersendiri yakni dunia bisnis dan promosi dengan ladang market yang besar, adalah kemenangan awal situs ini di level new entry. Mengapa demikian ? Ya, penggunaan dan pemanfaatan internet di sektor bisnis akhir-akhir ini menunjukkan tren positif. Berdasarkan survey penggunaan dan penyerapan sarana komunikasi Teknologi Informasi (P2SKTI) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI)Januari 2014 lalu,saat ini lebih dari 75 persen usaha, baik di perkotaan maupun di pedesaan, menggunakan internet. Artinya, situs Bi-Pro Magazine boleh dikatakan berpijak pada landasan yang tepat dan kuat untuk menapaki karirnya di belantara dunia maya.
Sebagai pendatang baru, selain mengintroduksi diri kecalon pengguna atau usernya, sudah menjadi keharusan bagi media portal berita seperti ini untuk memastikan diri siap dalam segala lini. Mulai dari pendanaan, kualitas sumberdaya manusia, strategi, hingga mental dalam bersaing, harus sudah mapan terposisi.Tinggal lagi bagaimana selanjutnya media ini menjalankan peran dan fungsinya, dimana wajib hukumnya bagi situs ini untuk selalu update dalam setiap content yang disajikan. Dalam hal ini, pemilik media harus menegaskan kepada sumberdaya dibawahnya agar pantang untuk kebobolan atau keduluan berita dari news portal lainnya.
Menjadi situs nomor Satu di Indonesia adalah harapan dan mimpi dari setiap situs internet di Indonesia.Untuk mewujudkan harapan dan mimpi itulah, banyak cara dan pendekatan mumpuni dilakukan, untuk meraih pasar. Lomba menulis artikel blog dengan hadiah total puluhan juta rupiah seperti kali ini, adalah trik sekaligus upaya yang patut diapresiasi untuk menggaet minat pengguna sejak dini.
Memang, mencermati perjalanan sukses jajaran top sites di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa poin penting yang perlu digarisbawahi. Jajaran top sites umumnya melakukan pendekatan multimedia, untuk menjaring minat pengguna.
Situs Detik.com misalnya, memang dari awal sudah dipersiapkan sebagai media andalan di dunia maya, melengkapi dua media lain yang kemudian hadir, yakni transcorp dan tabloid detik. Di zaman konvergensi media ini, kolaborasi antar media massa untuk mencapai tujuan bisnis sangat diperlukan. Situs Bi-Pro Magazine, bisa meniru langkah ini, karena setahu saya media ini punya hubungan darah dengan raksasa media Jawa Pos Media Corp (JPMC). Keleluasaan dalam memperkenalkan diri sekaligus memberikan nilai lebih kepada para pengguna, dimiliki Bipro magazine.com.
Strategi Pasar
Pernah baca tabloid detik? Pernahkah anda bertanya mengapa detik.com mau dan rela memberikan tabloid detik secara gratis? Tidakkah diperlukan pendanaan yang besar untuk membuat dan menerbitkan tabloid detik setiap harinya? Mengapa di situs lain kita harus menjadi anggota untuk mendownload versi cetak dari media online nya?
Perlu diingat, mencetak koran di atas kertas akan membutuhkan biaya yang sangat besar, berbanding lurus dengan jumlah koran yang dicetak. Namun tahukah anda untuk format pdf tabloid detik, bahwa tidak peduli Satu download atau Satu juta download , biaya produksi tabloid detik versi pdf adalah sama. Semakin banyak di-download, maka nama detik.com akan semakin terkenal dan prospek pasarnya semakin meluas. Mungkin itulah sebabnya detik.com memberikannya gratis untuk kita. Hal inipun bisa ditiru Bipro Magazine sebagai strategi pasarnya.
Finansial yang kuat
Dalam dunia bisnis, kemampuan dukungan dana sangat berperan penting. Dukungan dana dapat digunakan untuk memperbaharui strategi, menjalankan strategi-strategi baru, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, meningkatkan ketahanan perusahaan dari roller-coaster keadaan ekonomi dan pasar. Dengan didukung oleh group perusahaan dengan pendanaan yang kuat, maka bipro-magazine.com dapat mengkonsentrasikan dirinya untuk peningkatan kinerja dan peningkatan kualitas.
Dan akhirnya, Bipro Magazine.com hendaknya percaya bahwa perlu waktu untuk menuju kesana. Ada sekian banyak investasi yang kasat mata maupun tidak dalam perjalanan ini. Percayalah, azam untuk menjadi situs nomor satu itu bukan hal mustahil jika segenap orang-orang dibelakang layar situs ini bersatu dalam energi komitmen bersama.
Wednesday, April 27, 2011
Siak, Negeri Sejuta Pesona
Membaca pesona alam riau, separuhnya berarti ikut membaca potensi dan kekayaan hayati yang dimiliki kabupaten siak. Hal ini dirasa tidaklah berlebihan, mengingat siak selain dikenal dengan sejuta hikayat sejarah kesultanannya, juga memiliki sejuta pesona alamnya.
Siapapun tahu dan tak asing lagi dengan sungai siak. Sungai siak sendiri terkenal sebagai sungai terdalam di tanah air, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama sebagai sarana transportasi dan perhubungan.
Selain sungai siak, daerah ini juga dialiri sungai sungai lain, yaitu sungai mandau, sungai gasib, sungai apit, sungai tengah, sungai rawa, sungai buantan, sungai limau, dan sungai bayam. Sedangkan danau-danau yang tersebar di daerah ini adalah: danau ketialau, danau air hitam, danau besi, danau tembatu sonsang, danau pulau besar, danau zamrud, danau pulau bawah, danau pulau atas, dan tasik rawa.
Bentangan hijau alam kabupaten siak juga menjadi bagian pesona yang menawan. Di daerah bersejarah ini, terangkum areal hutan lindung yang luas yang mencapai 32 ribu hektare lebih di kawasan taman nasional zamrud dan juga di tahura, minas.
Yang lebih membanggakan lagi tentunya, diwilayah giam siak kecil, terdapat cagar biosfer giam yang merupakan salah satu dari 7 cagar biosfer yang ada di indonesia cagar biosfer merupakan satu-satunya konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara internasional. Dengan demikian pengawasan dan pengembangannya menjadi perhatian seluruh dunia atas kawasan tersebut.
Cagar biosfer giam siak kecil-bukit batu menjadi khas karena hutan rawa gambut yang tiada duanya di dunia ini, agak berbeda kekhasannya dengan hutan gambut semenanjung kampar (dengan sedikit rawa). Kekhasan lainnya adalah cagar biosfer giam siak kecil ini diinisiasi oleh pihak swasta yang bekerjasama dengan pemerintah melalui bbksda (balai besar konservasi sumber daya alam).
Berdasarkan penelitian lipi (lembaga ilmu pengetahuan indonesai) di tahun 2007, di kawasan cb-gsk-bb memiliki keanekaragaman hayati sekitar 126 jenis tumbuhan (52 jenis merupakan tumbuhan langka dan dilindungi) yang terdiri dari 67 marga dan 34 suku tumbuhan, yang jumlahnya bertambah jika ditambahkan dengan jenis "semak" dan "terna". Marga pohon yang dominan adalah calophyllum, chamnosperma, dyaera, alstonia, shorea, gonystylus, dan palaquium. Hal yang paling membanggakan dan menarik adalah masih banyaknya jenis pohon ramin (gonystylus bancanus), pohon gaharu (aquilaria beccariana), pohon meranti bunga (shorea teysmanniana), dan pohon punak (tetramerista glabra). Semua jenis pohon tersebut merupakan indikator bagi hutan rawa yang masih baik.
Berada di sekitar kawasan giam siak kecil, mata dan telinga kita terasa dimanjakan dengan gerak burung elang, dan nyanyian aneka jenis burung yang bertengger diujung-ujung ranting pohon di tepi sungai. Kera ekor panjang pun seakan tak mau ketinggalan. Mereka melompat-lompat seolah menyatakan selamat datang.
Dari hasil pendataan, di kawasan ini setidaknya dihuni sekitar 150 jenis burung, 10 jenis mamalia termasuk yang dilindungi, gajah sumatera dan harimau sumatra, 8 jenis reptil, dan sejumlah satwa lain yang belum teridentifikasi. Salah satu jenis reptil adalah buaya sumpit sebagai reptil yang biasa disebut senyulong, kerap dijumpai oleh masyarakat setempat. Jenis satwa terbang yang kadang-kadang nampak adalah burung julang jambul hitam.
Penetapan giam siak kecil sebagai cagar biosfer oleh unesco bukan merupakan akhir dari perjuangan membentuk dan melestarikan lingkungan hidup, tetapi merupakan awal bagi kelanjutan perjuangan-perjuangan berikutnya, terutama untuk daerah riau yang mana mengalami penyusutan terhadap kawasan hutan rawa gambut.
Saat ini, hanya ada 14 areal di riau yang menjadi kawasan konservasi yang dikelola bksda. Luas total sekitar 457 ribu hektare. Jumlah yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan luas daratan riau yang mencapai 8,6 juta hektare dan dibandingkan dengan porsi areal pemukiman, pertanian, hti, dan terakhir yang sedang trend perkebunan sawit yang jumlahnya mencapati 1,7 juta hektar. Walaupun kawasan konservasi yang menjadi benteng terakhir dan penyangga kehidupan itu jumlahnya sedikit/ namun kerap juga diganggu.
Menyelamatkan yang tersisa, itulah yang harus dilakukan para pihak jika tidak ingin lebih banyak taburan bencana yang menimpa bumi riau. Namun kita tentu tidak bisa lagi banyak berharap dengan program sekadar mengkonservasi. Melainkan, sudah saatnya kita bahu membahu menyelamatkan dan mengelolah kawasan yang tersisa itu seoptimal mungkin.
Siapapun tahu dan tak asing lagi dengan sungai siak. Sungai siak sendiri terkenal sebagai sungai terdalam di tanah air, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama sebagai sarana transportasi dan perhubungan.
Selain sungai siak, daerah ini juga dialiri sungai sungai lain, yaitu sungai mandau, sungai gasib, sungai apit, sungai tengah, sungai rawa, sungai buantan, sungai limau, dan sungai bayam. Sedangkan danau-danau yang tersebar di daerah ini adalah: danau ketialau, danau air hitam, danau besi, danau tembatu sonsang, danau pulau besar, danau zamrud, danau pulau bawah, danau pulau atas, dan tasik rawa.
Bentangan hijau alam kabupaten siak juga menjadi bagian pesona yang menawan. Di daerah bersejarah ini, terangkum areal hutan lindung yang luas yang mencapai 32 ribu hektare lebih di kawasan taman nasional zamrud dan juga di tahura, minas.
Yang lebih membanggakan lagi tentunya, diwilayah giam siak kecil, terdapat cagar biosfer giam yang merupakan salah satu dari 7 cagar biosfer yang ada di indonesia cagar biosfer merupakan satu-satunya konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara internasional. Dengan demikian pengawasan dan pengembangannya menjadi perhatian seluruh dunia atas kawasan tersebut.
Cagar biosfer giam siak kecil-bukit batu menjadi khas karena hutan rawa gambut yang tiada duanya di dunia ini, agak berbeda kekhasannya dengan hutan gambut semenanjung kampar (dengan sedikit rawa). Kekhasan lainnya adalah cagar biosfer giam siak kecil ini diinisiasi oleh pihak swasta yang bekerjasama dengan pemerintah melalui bbksda (balai besar konservasi sumber daya alam).
Berdasarkan penelitian lipi (lembaga ilmu pengetahuan indonesai) di tahun 2007, di kawasan cb-gsk-bb memiliki keanekaragaman hayati sekitar 126 jenis tumbuhan (52 jenis merupakan tumbuhan langka dan dilindungi) yang terdiri dari 67 marga dan 34 suku tumbuhan, yang jumlahnya bertambah jika ditambahkan dengan jenis "semak" dan "terna". Marga pohon yang dominan adalah calophyllum, chamnosperma, dyaera, alstonia, shorea, gonystylus, dan palaquium. Hal yang paling membanggakan dan menarik adalah masih banyaknya jenis pohon ramin (gonystylus bancanus), pohon gaharu (aquilaria beccariana), pohon meranti bunga (shorea teysmanniana), dan pohon punak (tetramerista glabra). Semua jenis pohon tersebut merupakan indikator bagi hutan rawa yang masih baik.
Berada di sekitar kawasan giam siak kecil, mata dan telinga kita terasa dimanjakan dengan gerak burung elang, dan nyanyian aneka jenis burung yang bertengger diujung-ujung ranting pohon di tepi sungai. Kera ekor panjang pun seakan tak mau ketinggalan. Mereka melompat-lompat seolah menyatakan selamat datang.
Dari hasil pendataan, di kawasan ini setidaknya dihuni sekitar 150 jenis burung, 10 jenis mamalia termasuk yang dilindungi, gajah sumatera dan harimau sumatra, 8 jenis reptil, dan sejumlah satwa lain yang belum teridentifikasi. Salah satu jenis reptil adalah buaya sumpit sebagai reptil yang biasa disebut senyulong, kerap dijumpai oleh masyarakat setempat. Jenis satwa terbang yang kadang-kadang nampak adalah burung julang jambul hitam.
Penetapan giam siak kecil sebagai cagar biosfer oleh unesco bukan merupakan akhir dari perjuangan membentuk dan melestarikan lingkungan hidup, tetapi merupakan awal bagi kelanjutan perjuangan-perjuangan berikutnya, terutama untuk daerah riau yang mana mengalami penyusutan terhadap kawasan hutan rawa gambut.
Saat ini, hanya ada 14 areal di riau yang menjadi kawasan konservasi yang dikelola bksda. Luas total sekitar 457 ribu hektare. Jumlah yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan luas daratan riau yang mencapai 8,6 juta hektare dan dibandingkan dengan porsi areal pemukiman, pertanian, hti, dan terakhir yang sedang trend perkebunan sawit yang jumlahnya mencapati 1,7 juta hektar. Walaupun kawasan konservasi yang menjadi benteng terakhir dan penyangga kehidupan itu jumlahnya sedikit/ namun kerap juga diganggu.
Menyelamatkan yang tersisa, itulah yang harus dilakukan para pihak jika tidak ingin lebih banyak taburan bencana yang menimpa bumi riau. Namun kita tentu tidak bisa lagi banyak berharap dengan program sekadar mengkonservasi. Melainkan, sudah saatnya kita bahu membahu menyelamatkan dan mengelolah kawasan yang tersisa itu seoptimal mungkin.
Monday, December 6, 2010
KPID Riau dan Problem Penyiaran Lokal
Usai dilantik pertengahan bulan Oktober 2010 lalu, ada perasaan lega yang menyelimuti pada diri pribadi penulis terhadap legitimasi keberadaaan pengurus Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau.
Pertama, dalam kapasitas penulis sebagai masyarakat awam penikmat program televisi, legitimasi kepengurusan KPID Riau berarti masyarakat Riau memiliki akses resmi di tingkat lokal, untuk melaporkan berbagai siaran radio/televisi lokal maupun nasional yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).
Selanjutnya, sebagai masyarakat yang memiliki hak berpendapat, bolehlah kiranya KPID menampung berbagai usulan dan masukan konstruktif dari masyarakat tentang perbaikan sistem dan profesionalisme radio/televisi, khususnya radio/tv lokal di Riau saat ini. Dari kelegaan ini, penulis ingin memaparkan lebih jauh masing-masing persoalan meskipun tidak dalam konteks yang mendalam. Dengan harapan, paling tidak dari sini, memunculkan proyeksi bagi kepengurusan KPID Riau dalam menentukan arah dan beban kerja beberapa tahun kedepan.
Terkait kelegaan penulis akan legitimasinya KPID sebagai lembaga resmi bagi masyarakat dalam memberikan aduan terkait pelanggaran P3SPS, sebenarnya merupakan luapan kegembiraan bahwa radio dan televisi-televisi lokal yang selama ini hanya diawasi oleh lembaga teknis perizinan dan frekuensi, kini juga bakal berhadapan langsung dengan lembaga yang mengurusi soal konten siaran, baik itu kualitas dan etika materi siaran. Dengan adanya KPID di provinsi, peran monitoring radio/tv lokal yang selama ini bisa jadi hampir tidak tersentuh KPI pusat, mulai saat ini bisa dijalankan.
Menggiring Arah Siaran Tv
Kita semua tahu, televisi memberi pengaruh yang besar dalam proses pembentukan opini, bahkan karakter masyarakat melalui tayangan-tayangannya. Benjamin Olken, ekonom dari MIT, beberapa tahun lalu pernah meneliti pengaruh televisi di kalangan rumah tangga Indonesia. Olken mensurvei lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima banyak saluran televisi. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu channel televisi yang bisa dilihat, maka rata-rata mereka menonton televisi lebih tujuh menit lebih lama.
Ketika survei ini dilakukan, hanya ada tujuh stasiun tv nasional. Kalau survei tersebut dilakukan saat ini, bisa jadi waktunya akan bertambah besar. Temuan lain yang tak kalah menarik adalah di pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi yang lebih bagus menunjukkan adanya tingkat partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah.
Artinya, orang lebih suka menonton televisi daripada terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Lebih dari itu, di pedesaan tersebut juga terlihat adanya tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerja sama perekonomian dan perdagangan. Bahkan, Olken yang termasuk sangat jarang menonton televisi, merasa heran ketika melihat kecanduan orang Indonesia terhadap kotak hitam tersebut.
Olken mengungkapkan, “I have been in many, many households in Indonesia that have a dirt floor, but they also have a television.” Terlepas dari penelitian tersebut, harus disadari memang masyarakat kita sudah terjangkit sindrom ketergantungan akut akan yang namanya televisi. Janganlah ditanya apa penyebab dari semua ini. Yang patut digiring, ialah ke arah mana televisi-televisi kita membawa hanyut para penikmatnya. Ke arah pencerdasankah? Atau pembodohankah?
Jika dilihat, di tengah perang bisnis media setakat ini, kemampuan untuk bertahan merupakan harga mati. Apalagi, era kebebasan pers pasca reformasi, ditambah lagi dengan adanya UU No 40/1999 tentang Pers, begitu menjanjikan masa depan yang cerah bagi dunia media di Indonesia.
Alhasil, jumlah media, terutama media televisi kian banyak. Jumlah tersebut mengakibatkan tidak terciptanya keragaman program di bidang penyiaran tv, karena tv swasta yang jumlahnya besar menganggap publik sebagai konsumen, bukan sebagai warga bangsa (citizen).
Apabila kita menyimak tv lokal di Riau, ada kecenderungan tren tv berbayar. Tv hanya memuaskan pelanggan-pelanggannya yang memasang iklan, mensponsori program, bahkan mendanai operasionalnya. Pemirsa di sini bukan masyarakat banyak, melainkan mitra bisnis dan rekanan yang membayar. Amat disayangkan memang. Namun itulah realitas. Masyarakat benar-benar ditempatkan sebagai konsumen dalam arti sebenarnya. Di sisi lain, stasiun televisi tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka perlu income, agar tetap on-air. Hanya saja paradoksnya, masyarakat butuh pencerahan, melalui tontonan-tontonan yang syarat akan pesan dan pendidikan.
Hadirnya KPID Riau di tengah kondisi ini ibarat mata air di tengah padang pasir. Ia dituntut untuk mampu menengahi, bukan memihaki. KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen dan berwenang mengatur hal-hal mengenai penyiaran tidak hanya diharapkan dapat mengawasi pelaksanaan P3SPS di daerah, namun juga menstimulasi kesadaran pelaku penyiaran untuk lebih berpihak kepada kebutuhan masyarakat.
Televisi Berjaringan
Momen hadirnya KPID Riau salah satunya juga diharapkan bisa memperjuangkan realisasi penerapan sistem televisi berjaringan di Indonesia.
Sistem yang seharusnya sudah harus dijalankan sejak Desember 2007 lalu ini, terkatung-katung hanya karena hegemoni power tv swasta nasional yang belum siap untuk berbagi dengan daerah. Menurut Wikipedia, sistem televisi berjaringan di Indonesia adalah sistem televisi berjaringan yang mengharuskan televisi-televisi yang memiliki daya frekuensi siaran nasional seperti SCTV, RCTI, MNCTv, Indosiar, AnTv, Metro TV, Trans TV, TvOne, Trans7, dan Global TV, agar melepaskan frekuensi terhadap daerah- daerah siaran mereka dan menyerahkan pada orang/lembaga/organisasi daerah yang ingin menggunakannya untuk dikembangkan.
Dalam tv berjaringan, semangat dasar dari siaran berjaringan adalah terpenuhinya aspek diversity of ownership, diversity of content, dan kearifan lokal (berkembangnya industri siaran lokal dan terlindunginya sosial-budaya ma-syarakat lokal). Dari sisi lain, televisi berjaringan ibarat otonomi daerah, yang mengubah pola sentralisasi menjadi desentralisasi. Apa yang di desentralisasi? Jawabnya, profit. Karena fakta menyebutkan, terjadi kesenjangan yang amat jauh dari sisi profit antara tv nasional dan lokal. Contoh pada tahun 2008 saja, transaksi iklan televisi nasional sudah di atas Rp3 triliun. Sementara televisi lokal hanya Rp100 miliar.
Desentralisasi profit ini juga dimaksudkan guna mendukung program pemberdayaan ekonomi daerah, dimana dengan hadirnya lembaga/unit jaringan tv nasional di daerah, diharapkan menyerap tenaga-tenaga kerja lokal, dan membawa multiplier effect positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Desakan untuk merealisasikan sistem ini juga didorong oleh semangat yang tersirat dalam pasal 5 UU No 32/2002 tentang Penyiaran, di mana disebutkan penyiaran diarahkan untuk mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di pusat maupun daerah, sebagai lembaga negara yang mengawal UU Penyiaran, harus terus berupaya mendesak pemerintah dan lembaga penyiaran swasta tidak lagi menunda sistem stasiun berjaringan.
Sebab jika terus-menerus ditunda, akan menyebabkan produk undang-undang itu tidak berfungsi dan demokratisasi di bidang penyiaran menjadi terhambat. Selamat bekerja KPID Riau.***
Dodita, Praktisi media dan peminat masalah sosial kemasyarakatan.
dapat dibaca juga di http://riaupos.com/news/2010/11/18/kpid-riau-dan-problem-penyiaran-lokal-oleh-dodita/
Pertama, dalam kapasitas penulis sebagai masyarakat awam penikmat program televisi, legitimasi kepengurusan KPID Riau berarti masyarakat Riau memiliki akses resmi di tingkat lokal, untuk melaporkan berbagai siaran radio/televisi lokal maupun nasional yang melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).
Selanjutnya, sebagai masyarakat yang memiliki hak berpendapat, bolehlah kiranya KPID menampung berbagai usulan dan masukan konstruktif dari masyarakat tentang perbaikan sistem dan profesionalisme radio/televisi, khususnya radio/tv lokal di Riau saat ini. Dari kelegaan ini, penulis ingin memaparkan lebih jauh masing-masing persoalan meskipun tidak dalam konteks yang mendalam. Dengan harapan, paling tidak dari sini, memunculkan proyeksi bagi kepengurusan KPID Riau dalam menentukan arah dan beban kerja beberapa tahun kedepan.
Terkait kelegaan penulis akan legitimasinya KPID sebagai lembaga resmi bagi masyarakat dalam memberikan aduan terkait pelanggaran P3SPS, sebenarnya merupakan luapan kegembiraan bahwa radio dan televisi-televisi lokal yang selama ini hanya diawasi oleh lembaga teknis perizinan dan frekuensi, kini juga bakal berhadapan langsung dengan lembaga yang mengurusi soal konten siaran, baik itu kualitas dan etika materi siaran. Dengan adanya KPID di provinsi, peran monitoring radio/tv lokal yang selama ini bisa jadi hampir tidak tersentuh KPI pusat, mulai saat ini bisa dijalankan.
Menggiring Arah Siaran Tv
Kita semua tahu, televisi memberi pengaruh yang besar dalam proses pembentukan opini, bahkan karakter masyarakat melalui tayangan-tayangannya. Benjamin Olken, ekonom dari MIT, beberapa tahun lalu pernah meneliti pengaruh televisi di kalangan rumah tangga Indonesia. Olken mensurvei lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang bisa menjangkau sedikit dengan desa yang bisa menerima banyak saluran televisi. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu channel televisi yang bisa dilihat, maka rata-rata mereka menonton televisi lebih tujuh menit lebih lama.
Ketika survei ini dilakukan, hanya ada tujuh stasiun tv nasional. Kalau survei tersebut dilakukan saat ini, bisa jadi waktunya akan bertambah besar. Temuan lain yang tak kalah menarik adalah di pedesaan dengan penerimaan sinyal televisi yang lebih bagus menunjukkan adanya tingkat partisipasi kegiatan sosial yang lebih rendah.
Artinya, orang lebih suka menonton televisi daripada terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Lebih dari itu, di pedesaan tersebut juga terlihat adanya tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi di antara penduduk yang berakibat pada lesunya kerja sama perekonomian dan perdagangan. Bahkan, Olken yang termasuk sangat jarang menonton televisi, merasa heran ketika melihat kecanduan orang Indonesia terhadap kotak hitam tersebut.
Olken mengungkapkan, “I have been in many, many households in Indonesia that have a dirt floor, but they also have a television.” Terlepas dari penelitian tersebut, harus disadari memang masyarakat kita sudah terjangkit sindrom ketergantungan akut akan yang namanya televisi. Janganlah ditanya apa penyebab dari semua ini. Yang patut digiring, ialah ke arah mana televisi-televisi kita membawa hanyut para penikmatnya. Ke arah pencerdasankah? Atau pembodohankah?
Jika dilihat, di tengah perang bisnis media setakat ini, kemampuan untuk bertahan merupakan harga mati. Apalagi, era kebebasan pers pasca reformasi, ditambah lagi dengan adanya UU No 40/1999 tentang Pers, begitu menjanjikan masa depan yang cerah bagi dunia media di Indonesia.
Alhasil, jumlah media, terutama media televisi kian banyak. Jumlah tersebut mengakibatkan tidak terciptanya keragaman program di bidang penyiaran tv, karena tv swasta yang jumlahnya besar menganggap publik sebagai konsumen, bukan sebagai warga bangsa (citizen).
Apabila kita menyimak tv lokal di Riau, ada kecenderungan tren tv berbayar. Tv hanya memuaskan pelanggan-pelanggannya yang memasang iklan, mensponsori program, bahkan mendanai operasionalnya. Pemirsa di sini bukan masyarakat banyak, melainkan mitra bisnis dan rekanan yang membayar. Amat disayangkan memang. Namun itulah realitas. Masyarakat benar-benar ditempatkan sebagai konsumen dalam arti sebenarnya. Di sisi lain, stasiun televisi tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka perlu income, agar tetap on-air. Hanya saja paradoksnya, masyarakat butuh pencerahan, melalui tontonan-tontonan yang syarat akan pesan dan pendidikan.
Hadirnya KPID Riau di tengah kondisi ini ibarat mata air di tengah padang pasir. Ia dituntut untuk mampu menengahi, bukan memihaki. KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen dan berwenang mengatur hal-hal mengenai penyiaran tidak hanya diharapkan dapat mengawasi pelaksanaan P3SPS di daerah, namun juga menstimulasi kesadaran pelaku penyiaran untuk lebih berpihak kepada kebutuhan masyarakat.
Televisi Berjaringan
Momen hadirnya KPID Riau salah satunya juga diharapkan bisa memperjuangkan realisasi penerapan sistem televisi berjaringan di Indonesia.
Sistem yang seharusnya sudah harus dijalankan sejak Desember 2007 lalu ini, terkatung-katung hanya karena hegemoni power tv swasta nasional yang belum siap untuk berbagi dengan daerah. Menurut Wikipedia, sistem televisi berjaringan di Indonesia adalah sistem televisi berjaringan yang mengharuskan televisi-televisi yang memiliki daya frekuensi siaran nasional seperti SCTV, RCTI, MNCTv, Indosiar, AnTv, Metro TV, Trans TV, TvOne, Trans7, dan Global TV, agar melepaskan frekuensi terhadap daerah- daerah siaran mereka dan menyerahkan pada orang/lembaga/organisasi daerah yang ingin menggunakannya untuk dikembangkan.
Dalam tv berjaringan, semangat dasar dari siaran berjaringan adalah terpenuhinya aspek diversity of ownership, diversity of content, dan kearifan lokal (berkembangnya industri siaran lokal dan terlindunginya sosial-budaya ma-syarakat lokal). Dari sisi lain, televisi berjaringan ibarat otonomi daerah, yang mengubah pola sentralisasi menjadi desentralisasi. Apa yang di desentralisasi? Jawabnya, profit. Karena fakta menyebutkan, terjadi kesenjangan yang amat jauh dari sisi profit antara tv nasional dan lokal. Contoh pada tahun 2008 saja, transaksi iklan televisi nasional sudah di atas Rp3 triliun. Sementara televisi lokal hanya Rp100 miliar.
Desentralisasi profit ini juga dimaksudkan guna mendukung program pemberdayaan ekonomi daerah, dimana dengan hadirnya lembaga/unit jaringan tv nasional di daerah, diharapkan menyerap tenaga-tenaga kerja lokal, dan membawa multiplier effect positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Desakan untuk merealisasikan sistem ini juga didorong oleh semangat yang tersirat dalam pasal 5 UU No 32/2002 tentang Penyiaran, di mana disebutkan penyiaran diarahkan untuk mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di pusat maupun daerah, sebagai lembaga negara yang mengawal UU Penyiaran, harus terus berupaya mendesak pemerintah dan lembaga penyiaran swasta tidak lagi menunda sistem stasiun berjaringan.
Sebab jika terus-menerus ditunda, akan menyebabkan produk undang-undang itu tidak berfungsi dan demokratisasi di bidang penyiaran menjadi terhambat. Selamat bekerja KPID Riau.***
Dodita, Praktisi media dan peminat masalah sosial kemasyarakatan.
dapat dibaca juga di http://riaupos.com/news/2010/11/18/kpid-riau-dan-problem-penyiaran-lokal-oleh-dodita/
Tuesday, September 22, 2009
Olahraga Apa yang Bikin Pintar?
Selain belajar dan makan makanan bergizi, olahraga juga ternyata membuat otak lebih cerdas. Itulah kesimpulan yang ditarik beberapa peneliti dari Taiwan dan Amerika. Tapi olahraga seperti apa yang membuat otak encer?
Peneliti dari National Cheng Kung University, Taiwan membandingkan olahraga lari di treadmill dan lari dalam labirin air pada tikus percobaan. Setelah dilihat di bawah mikroskop, otak tikus yang berlari dengan treadmil lebih banyak yang aktif ketimbang tikus berlari dalam labirin. Tapi tikus yang berlari dalam labirin memiliki satu bagian otak yang lebih aktif yaitu bagian kognitif.
"Hal itu menunjukkan bahwa beda jenis olahraga memicu perubahan neuroplastisitas yang berbeda pula," ujar Chauying J. Jen, profesor physiology yang memimpin studi tersebut, seperti dilansir New York Times, Kamis (17/9/2009).
Sepuluh tahun yang lalu, peneliti dari Salk Institute in California mempublikasikan bahwa olahraga akan menstimulasi dan menciptakan sel-sel baru di otak yang memungkinkan seseorang lebih cerdas. Tapi olahraga seperti apa yang bisa berefek seperti itu? apakah aerobik, angkat beban, lari, berenang atau apa?
Studi lainnya yang dimuat dalam American College of Sports Medicine menganalisis kemampuan memori 21 mahasiswa University of Illinois dengan membandingkan olahraga lari, aerobik dan angkat beban selama 30 menit. Responden diminta mengingat beberapa kata sebelum dan sesudah olahraga.
Dari tes tersebut diketahuilah bahwa olahraga lari paling banyak mengaktifkan sel-sel di otak dibanding kedua jenis olahraga lainnya. Mengapa? Peneliti mengatakan hal itu karena sel-sel tubuh yang diaktifkan dengan olahraga akan mentransfer zat-zat molekul atau growth factors yang membuat saraf-saraf baru dan jaringan di otak.
"Seseorang butuh aliran darah yang cepat untuk mentransfer zat pengaktif otak tersebut dan olahraga seperti lari, bersepeda atau berenang membuat aliran darah lebih cepat sehingga growth factor sampai ke otak dan membuat seseorang memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik sedangkan olahraga angkat beban hanya akan mentransfer growth factors sampai ke otot saja," ujar Henriette van Praag, seorang investigator dari Laboratory of Neurosciences at the National Institute on Agin.
Jadi mulai sekarang perbanyak olahraga lari, berenang atau aerobik kalau ingin pintar. (sumber: detikHealth)
Peneliti dari National Cheng Kung University, Taiwan membandingkan olahraga lari di treadmill dan lari dalam labirin air pada tikus percobaan. Setelah dilihat di bawah mikroskop, otak tikus yang berlari dengan treadmil lebih banyak yang aktif ketimbang tikus berlari dalam labirin. Tapi tikus yang berlari dalam labirin memiliki satu bagian otak yang lebih aktif yaitu bagian kognitif.
"Hal itu menunjukkan bahwa beda jenis olahraga memicu perubahan neuroplastisitas yang berbeda pula," ujar Chauying J. Jen, profesor physiology yang memimpin studi tersebut, seperti dilansir New York Times, Kamis (17/9/2009).
Sepuluh tahun yang lalu, peneliti dari Salk Institute in California mempublikasikan bahwa olahraga akan menstimulasi dan menciptakan sel-sel baru di otak yang memungkinkan seseorang lebih cerdas. Tapi olahraga seperti apa yang bisa berefek seperti itu? apakah aerobik, angkat beban, lari, berenang atau apa?
Studi lainnya yang dimuat dalam American College of Sports Medicine menganalisis kemampuan memori 21 mahasiswa University of Illinois dengan membandingkan olahraga lari, aerobik dan angkat beban selama 30 menit. Responden diminta mengingat beberapa kata sebelum dan sesudah olahraga.
Dari tes tersebut diketahuilah bahwa olahraga lari paling banyak mengaktifkan sel-sel di otak dibanding kedua jenis olahraga lainnya. Mengapa? Peneliti mengatakan hal itu karena sel-sel tubuh yang diaktifkan dengan olahraga akan mentransfer zat-zat molekul atau growth factors yang membuat saraf-saraf baru dan jaringan di otak.
"Seseorang butuh aliran darah yang cepat untuk mentransfer zat pengaktif otak tersebut dan olahraga seperti lari, bersepeda atau berenang membuat aliran darah lebih cepat sehingga growth factor sampai ke otak dan membuat seseorang memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik sedangkan olahraga angkat beban hanya akan mentransfer growth factors sampai ke otot saja," ujar Henriette van Praag, seorang investigator dari Laboratory of Neurosciences at the National Institute on Agin.
Jadi mulai sekarang perbanyak olahraga lari, berenang atau aerobik kalau ingin pintar. (sumber: detikHealth)

















.jpg)