Monday, January 13, 2020

Rumah Strategis Di Tengah Kota Pekanbaru

DIJUAL Rumah Cluster Tengah Kota dan Lokasi Strategis di Jalan Katio Ujung, Taman Airis Pekanbaru



Strategis, Model Minimalis, lingkungan Tenang dan Nyaman

Sertifikat Hak Milik
Type : 82
Luas tanah : 182 M
Kamar tidur: 3
Kamar mandi: 2
AC 3 Unit 
Garasi: ada
Kanopi : Ada

Berminat ? Hubungi Kami sekarang juga di nomor HP 0823 21 989877 
 
Share:

Thursday, August 9, 2018

Bengkel Jasa Cat Motor Pekanbaru 0812-68-222-912



Anda bosan dengan warna motor anda namun susah mencari tempat cat motor di Pekanbaru ? Yup pas kali. Kamilah yang anda cari. Perkenalkan kami Newgame Custom bengkel cat motor di Pekanbaru. Kami siap melayani permintaan jasa cat motor pekanbaru.

Warna kendaraan adalah personalisasi penggunanya.Dalam hal modifikasi, warna juga jadi ciri khas kendaraan.Trik paling ampuh dalam mengubah warna kendaraan adalah dengan cat.

Maka karena itulah Newgame Custom hadir. Kami ingin menjadi mitra anda yang suka gonta ganti warna motor. Kami siap membantu anda kapan pun diberbagai wilayah Pekanbaru dan sekitarnya. Kami menyadari tidak banyak jasa pengecatan motor di pekanbaru.

Tenaga kerja kami sudah memiliki pengalaman yang handal dan profesional karena telah banyak mengerjakan berbagai pengecatan, baik itu cat body , cat rangka, cat tangki motor, cat velg, cat tromol, cat lingkar, cat kaliper, dan pengecatan komponen motor lainnya.

Yang menarik lagi, kami juga menerima permintaan pengecatan berbahan Carbon, Water Transfer Printing (Carbon WTP), dan Carbon Kevlar. 


Soal Harga, jangan ragu ! kami memberikan harga bersahabat dan tentunya berprinsip "Anda senang, kami pun senang". So, segera percantik motor kesayangan anda, melalui kami, Newgame Custom.


Bagi anda yang memerlukan bantuan jasa  kami silahkan segera hubungi kami di HP 0812-68-222-912

Share:

Friday, August 3, 2018

Jasa Tukang Bangunan Di Pekanbaru,Riau |Hp 0812.68.222.912 (Tsel)

Tukang Bangunan Pekanbaru,Riau

Anda ingin membangun atau merenovasi rumah dengan Tarif / harga terjangkau dan hasil yang berkualitas ? Hubungi Kami melalui telepon maupun Whatsapp sekarang di 0812.68.222.912

Kenapa memilih kami ?

Tukang Bangunan merupakan seorang praktisi dan ahli yang memiliki kemampuan untuk membangun rumah, bangunan,maupun untuk memperbaiki,dan melakukan perawatan pada Rumah Anda. Hanya saja tidak semua tukang bangunan memiliki jam terbang dan pengalaman membangun yang suda teruji.

Bersama kami, kami memiliki tukang yang berpengalaman dalam sejumlah proyek pembangunan baik perumahan, bangunan kantor, ruko, rumah ibadah, turap, jembatan hingga bangunan bertingkat seperti hotel dan apartemen.

Beberapa proyek pembangunan di Provinsi Riau yang memakai jasa tukang kami diantaranya Masjid Agung An-nur Pekanbaru,  bangunan turap dipinggir sungai Siak Kabupaten Siak, Banyak jembatan beton di Siak, Kampar, Pekanbaru dan kabupaten kota lain di Riau, serta ratusan ruko yang tersebar di kota Pekanbaru.

Selain itu kami juga memiliki beberapa peralatan penunjang seperti alat pembuat adonan semen cor, lift barang khusus proyek bangunan, mesin gerinda, bor, dan beberapa peralatan tukang lainnya.

Berapa Tarif kami ?

Tarif dalam proyek bangunan tergantung spesifikasi dan jenis bangunan yang akan dibangun. Semakin rumit dan tinggi tingkat kesulitan pengerjaan, maka semakin menaikkan tarif. Namun kami memahami kondisi situasi perekonomian saat ini yang membuat orang berhitung dalam membangun. Untuk itu, kami pada prinsipnya menekankan kesepakatan saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun sebagai gambaran, disini kami berikan acuan tarif untuk beberapa jenis bangunan :

1. Bangunan perumahan sederhana 600.000 per-meter persegi (nego)
2. Bangunan perumahan semi mewah 750.000 per meter persegi (nego)
3. Bangunan Perumahan mewah 900.000 permeter persegi (nego)


Segera hubungi kami sekarang juga. Percayakan pembangunan rumah atau proyek bangunan anda kepada kami. Insya Allah kami akan menjawabnya.
Salam Sukses
Share:

Wednesday, July 12, 2017

Berguru Pada Angin


Mengadulah kepada angin
Dipinggir dermaga yang tak bertuan
Tuang air mata dan jenuhmu ke awang-awang
biarkan ia melayang,
bersama angin,
bersama zikir dan doa

Belajarlah pada angin
yang membawa terbang setangkup cinta
pada padi dan alang-alang

Bergurulah pada angin
dirimbun dan rindangnya dedaunan

ada terpaan kasih yang tak berpenjuru
ada rezeki hara bagi yang bernyawa dibawah sana

13 Juli 2017, 11.24 AM





Share:

Thursday, February 4, 2016

“ Malaikat Saja Bertanya ! Nah, Kita ??? “

Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya ?? Yap, manusia diberikan kemampuan akal dan berfikir, yang kemudian menempatkan manusia sebagai makhluk sempurna di muka bumi ini. Tidak ada makluk lain di muka bumi ini sesempurna manusia, kendati robot-robot buatan manusia sekalipun sedang menyaingi kesempurnaan itu.

Namun, tak selamanya kesempurnaan fisik manusia itu menjamin setiap insan mampu melakukan atau memenuhi keinginan apa saja yang ia ingini. Selalu ada saja keterbatasan yang sengaja diberikan Sang Pencipta, agar manusia bisa mendayagunakan akal dan fikirannya untuk menjawab segala keterbatasan itu.

Keterbatasan yang di-skenariokan Tuhan kepada kita, diberikan dalam bentuk yang variatif baik itu keterbatasan dalam bentuk fisik,  maupun non fisik. Keterbatasan fisik, sudah lazim kita ketahui, seperti orang yang menderita cacat fisik. Sedangkan keterbatasan non fisik,dapat diterjemahkan kepada keterbatasan daya upaya, keterbatasan ekonomi, keterbatasan ruang dan waktu, dan banyak lagi. Bertanya, adalah manifestasi manusia dalam menjawab salah satu keterbatasan non fisik tadi. 

Bertanya dan ditanya, mungkin sudah menjadi bagian dari hidup kita. Selalu saja ada pertanyaan yang muncul melingkupi berbagai aktivitas keseharian kita. Termasuk dalam kesendirian kita pun, seperti saat merenung, muncul pertanyaan dalam hati sebagai otokritik dalam diri. Untuk apa aku hidup ? Apa yang bisa kulakukan lagi untuk keluarga, agama, bangsa ini ? Mengapa aku sehina ini ? kapan aku berubah ?

Bahkan, khusus bagi umat muslim, ada serangkaian pertanyaan yang akan dilewati sebelum dan sesudah proses kehidupan di dunia. Apakah kamu siap mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ? Maa Robbuka (Siapa Tuhanmu) ? Jika mau di-adagiumkan, perumpamaan pentingnya bertanya itu seperti "Malaikat saja bertanya ! Nah, kita ?" 

Sebagai pribadi yang penuh dengan keterbatasan, saya sendiri banyak sekali mengalami proses bertanya dan ditanya, baik person to person, maupun bertanya kepada diri sendiri. Sudah pasti, banyak manfaat yang saya dapatkan dari proses bertanya tersebut, baik sifatnya kondisional maupun yang bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang.

Ada satu peristiwa yang terus membenak dalam diri saya, tentang dahsyatnya dampak bertanya. Kala itu, pertengahan 2008, saya berangkat ke kota Medan, Sumatera Utara seorang diri. Misi saya ke kota yang belum pernah saya jejaki itu adalah, menjalankan amanah dari abang saya untuk membeli bibit kelapa sawit di Pusat Pembenihan Kelapa Sawit (PPKS) Medan.

Dengan modal nekat dan motivasi mendapatkan pengalaman, saya menyanggupi amanah tersebut. Tak ada masalah tentang perjalanan saya dari Pekanbaru ke Medan, bahkan sampai di kantor PPKS tersebut. Yang menjadi masalah yaitu ketika bibit sawit sudah terbeli, dan harus dikirim ke provinsi Lampung sore itu juga. Sebagai pendatang baru, terus terang saya tidak tahu bagaimana proses mengirimkan ribuan bibit kelapa sawit itu. Apalagi, saya juga tidak mengenal kota Medan sama sekali, jika harus ke Bandara, bagaimana saya harus kesana dan bagaimana dengan bawaan saya sebanyak itu ??

Tuhan yang tahu akan kesulitan saya, memberikan solusinya melalui salah seorang petugas PPKS disana. Namun, sekali lagi, bantuan petugas tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan ketika ia saya tanyakan tentang bagaimana dan kemana saya harus berurusan jika harus mengirimkan bibit itu ke Lampung.

Sebuah jawaban sederhana namun bagai angin surga meluncur dari mulut petugas tadi. "Ok, karena saya juga ingin melihat langsung tentang bagaimana proses karantina dan pengiriman bibit sawit melalui kargo, saya temani anda...! "

Akhirnya dengan mobil pribadi beliaulah, saya akhirnya menuju ke balai karantina Pertanian, dan selanjutnya mengurusi  tetek bengek pengiriman bibit itu ke Lampung. Sesampai di tempat tujuan, rahmat Tuhan kembali datang kepada saya. Sesungguhnya, kedatangan kami ke Balai Karantina tadi bertepatan dengan berakhirnya waktu operasional kantor, yakni sekitar jam setengah empat sore. Namun, karena didampingi seorang petugas PPKS yang cukup 'punya nama" di departemen Pertanian, petugas Balai karantina pun akhirnya memproses barang kiriman saya.

Pengalaman tadi, terus terang saya ingat sampai kapanpun juga. Betapa tidak, mengirim ribuan bibit sawit seperti mengirim sebuah email, lempang begitu saja. Pada tulisan ini, izinkan saya kembali mengucapkan ribuan terimakasih kepada petugas PPKS Medan yang saya sendiri sudah lupa namanya. "Semoga Bapak diberi Tuhan kemudahan dalam segala urusan" .

 

Saya juga bersyukur, di zaman serba canggih seperti saat ini, ragam kemudahan semakin banyak diberikan, termasuk dari  salah satu BUMN ternama, Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Dengan tagline “Mau Bertanya Nggak Sesat Dijalan”, BNI menggunakan kecanggihan teknologi saat ini dengan memanfaatkan sosial media Twitter untuk mempermudah para nasabahnya yang membutuhkan berbagai informasi lengkap seputar Bank Negara Indonesia (BNI), mulai dari promo yang diadakan oleh BNI hingga informasi produk dan layanan BNI yang bisa dinikmati oleh para nasabah. Dengan adanya hashtag #AskBNI ini, saat ini para nasabah BNI dijamin akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi secepatnya dimanapun berada hanya melalui akun Twitter @BNI46 saja, tanpa perlu melakukan sambungan telepon terlebih dahulu ke Customer Care BNI.

Dengan adanya fitur #AskBNI ini, BNI setidaknya menunjukkan ‘jurus baru’ dalam dunia pelayanan perbankan, khususnya dalam tujuan meningkatkan pelayanannya dengan lebih memberikan kemudahan kepada para nasabah yang ingin mengetahui berbagai informasi dimanapun, kapanpun dan tentang apapun. Selain itu, BNI juga ingin merubah pola pikir penggunanya untuk tidak malu bertanya dan merubahnya menjadi pola pikir “Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan”.

Nah, makhluk halus sekelas Malaikat saja bertanya kepada kita. Bank ternama sekelas BNI46 saja mau memfasilitasi kita untuk bertanya. So, masih juga malu untuk bertanya ??  


Share:

Tuesday, October 27, 2015

Memori Hotel Karpet (Sebuah bagian renyah perjalanan dari Pekanbaru-Phuket-Hatyai-Penang)



Waw, nggak kerasa setelah Maret 2014 yang lalu, saya bareng keluarga (anak dan istri) menjalani trip murah ke Bangkok, September 2015 yang lalu kami kembali jalan-jalan ke luar negeri, yakni ke Phuket, Thailand dan Pulau Penang Malaysia. Nggak nyangka aja, selama tiga tahun berturut-turut mulai dari 2013, 2014 dan 2015, kami bisa merutinkan tradisi jalan-jalan kami, walaupun untuk itu, kami mesti ikat pinggang kencang-kencang dalam mengatur keuangan.
Seperti tahun 2014, kepergian saya bareng keluarga kali ini ditengah bencana kabut asap yang saban tahun melanda Riau, dan beberapa provinsi di Sumatera.  Satu sisi, jalan-jalan kami kali ini adalah langkah kanan bagi kami, karena selain liburan, juga sekaligus upaya ‘lari’ dari kepungan asap yang tidak bersahabat. Namun, disisi lain, gara-gara asap itu pula, saya dan istri sempat harap-harap cemas akan kepastian penerbangan kami ke Kuala Lumpur. Soalnya, tepat pada Senin pagi (Tujuh September 2015) sekitar pukul Delapan pagi, kabut asap sedang tebal-tebalnya. Jarak pandang saat itu tidak lebih dari seratus meter saja. Dengan jarak pandang sedekat itu, dipastikan tidak akan ada aktivitas penerbangan di Bandara, karena dalam standarnya, aktivitas take off dan landing pesawat dapat dilakukan jika jarak pandang diatas 1000 hingga 1500 meter.
Kecemasan kami bertambah, ketika sampai di Bandara, belum ada keterangan resmi dari pihak maskapai akan status penerbangan kami. Namun, dari maskapai lain kebanyakan meniadakan penerbangan hari itu. Hingga pukul Sepuluh kurang, barulah kecemasan kami berkurang, ketika terdengar suara operator bandara meminta penumpang pesawat Garuda untuk segera menaiki pesawat. 


Akhirnya, sesuai jadwal penerbangan kami pada pukul 10.50 WIB, kami pun akhirnya bisa terbang. Salut juga sama pilot Air Asia, yang berani mendaratkan pesawat ditengah jarak pandang sedemikian resikonya saat itu. Ya, sebagai informasi, bahwa pesawat Air Asia yang kami tumpangi, sebelum membawa kami, baru saja mendarat membawa penumpang dari Kuala Lumpur. Dengan jarak pandang tidak lebih dari 1000 meter, hanya Air Asia yang berani Landing di Pekanbaru pada pagi itu.
Apalagi, durasi penerbangan kami saat itu termasuk cepat, 20 menit lebih awal dari rata-rata penerbangan normal. Nggak tau apa sebabnya, yang jelas kami mendengar informasi itu dari kru pesawat saat akan landing di KLIA 2 Kuala Lumpur.
Akhirnya, sampai juga kami di KLIA 2, Bandara Internasional yang baru saja beroperasi selama setahun di Malaysia. Sempat takjub juga dengan bandara ini, karena memang lebih luas dan rapi dibanding dengan KLIA dan LCCT. 


Disinilah kemudian cerita perjalanan kami dimulai. 

8 Jam Menunggu terbang Ke Phuket 
Fly To Phuket


Bermalam di Hotel Karpet d Phuket

Hampir Pukul Sebelas malam,  kami sampai di Kota Phuket. Bersyukur, karena penerbangan dua jam lebih akhirnya berujung juga. sampai di Phuket, Bandara kota Phuket, yang namanya Berbahasa Thailand,


Go To Patong



This Patong, My daughter !


Share:

Thursday, August 28, 2014

Kepak Sayap AirAsia, Kepak Sayap Kehidupan Saya



       Tak berselang lama usai lebaran tahun ini, saya mengunjungi seorang kerabat yang sedang berada dalam tahanan kepolisian. Terjadi pembicaraan dari hati ke hati antara saya dan kerabat tadi, mulai dari kondisinya menjalani masa tahanan, kondisi keluarga yang ia tinggalkan, hingga mengalir dengan sendirinya, ia meratap tentang rencananya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik usai “ditempa” dibalik jeruji besi.  
          Ingin berubah dari kehidupan yang serba kelam ke kehidupan yang lebih baik, adalah sebuah pengartian dari kerabat saya tadi, terhadap apa yang dinamakan dengan perubahan dalam hidup. Menurutnya, merubah hitam menjadi putih, dari yang serba tidak teratur menjadi teratur, dari nakal menjadi baik, dari seorang penjudi menjadi seorang yang rajin mengaji, adalah bentuk perubahan hidup yang akan dijalaninya. Berada dibalik jeruji besi, membuatnya menemukan titik balik ke arah yang lebih baik. 
       Banyak orang mengartikan perubahan hidup dengan orientasi yang berbeda-beda. Ada yang berorientasi pada nilai-nilai kematerian, karir dan jabatan, hingga orientasi pada sisi religi ketuhanan atau keimanan. Saya sendiri, tak ingin melangit mendefinisikan sebuah perubahan hidup. Secara sederhana, perubahan hidup bagi saya adalah perubahan dari hal-hal kecil yang membawa manfaat baik bagi saya dan juga orang lain. 
    Berbicara tentang perubahan dalam hidup, AirAsia Airline telah membawa saya menemukan perubahan dalam hidup itu. Maskapai penerbangan dengan warna dominan merah tua itu, telah banyak memberikan perubahan dalam hidup saya pribadi dan keluarga. Mulai dari perubahan gaya hidup, pola hidup, prinsip hidup, dan dari itu semua saya merasakan hidup ini lebih bermakna. 
Saya, Istri, dan anak kami saat di kawasan Putra Jaya Malaysia
        Perubahan gaya hidup, saya rasakan setelah dua tahun belakangan saya dan keluarga rutin berlibur keluar negeri bersama AirAsia. Padahal, sebelum mengenal maskapai yang enam tahun berturut-turut menyabet penghargaan World Best Low Cost Airline itu, istilah liburan tidak ada dalam kamus hidup saya. Bahkan, menaiki pesawat terbang saja adalah aktivitas langka bagi saya dan keluarga. Sebelum mengenal AirAsia, hanya satu kali saya pernah terbang dengan pesawat, itupun berkat fasilitas yang saya dapatkan dari organisasi yang saya ikuti semasa kuliah dulu. 
          Nah, setelah mengenal AirAsia sejak pertengahan 2012, barulah saya rasakan gaya hidup yang sedikit meningkat. Setiap tahun, walaupun hanya sekali, saya dan keluarga kecil saya pergi liburan ditemani AirAsia. Mei 2013, kami sekeluarga berlibur ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dilanjutkan Maret 2014 yang lalu, saya, istri, dan seorang putri kami, liburan ke Bangkok, Thailand. 2015 mendatang, kami sudah merencanakan untuk kembali liburan, walaupun destinasinya belum kami matangkan. 
        Perubahan gaya hidup, belum apa-apa bagi saya jika dibandingkan dengan perubahan pola hidup yang saya rasakan, setelah acapkali keluar negeri. Bepergian keluar negeri, memberi saya begitu banyak inspirasi dan motivasi untuk hidup lebih sehat, lebih teratur, lebih disiplin, dan masih banyak lagi. Sebagai bukti, sudah lima bulan ini saya ‘pensiun dini’ sebagai perokok. Selain dalil kesehatan yang hukumnya pasti, perjalanan liburan di Thailand Maret lalu cukup memberi motivasi  bagi saya untuk berhenti dari aktivitas ‘membakar uang’ dan menyakiti diri sendiri itu.
       Bagi seorang perokok, berada di Thailand, seperti berada di neraka yang paling dalam. Dikucilkan, diisolasi, tak jauh beda seperti anak tiri. Orang-orang disana, seolah-olah telah di doktrin agar menjauhi perokok.  Ditambah lagi harga rokok  pun dipatok hampir tiga kali lipat dari harga di Indonesia. Sampai-sampai saya berkontemplasi dan akhirnya berhenti pada satu titik pencarian jawaban, bahwa inilah ciri masyarakat negara maju. Masyarakat dimana secara kolektif mereka care akan kesehatan pribadi dan orang lain; masyarakat yang menempatkan kesehatan sebagai kunci dari produktifitas dan kebahagiaan; masyarakat yang amat menghargai waktu dan mengharamkan sepersekian detikpun terbuang sia-sia, apalagi hanya untuk aktivitas menyakiti diri. 
Jajanan di Walking Street Pattaya, Thailand. Ada Kalajengking, ulat, kecoa, dll.
     Akhirnya, sekembali dari ‘neraka’ itu, tak butuh lama-lama bagi saya untuk berhenti merokok. Kendati butuh perjuangan yang keras untuk itu, Alhamdulillah, hampir setengah tahun ini saya menyandang status alumni dari golongan perokok. Walaupun nampaknya sepele, perubahan ini telah membawa arti yang besar baik bagi kesehatan, kehidupan sosial, dan tentunya ekonomi keluarga. Dan perubahan ini, tak akan datang dengan sendirinya, jika ‘si burung besi’ AirAsia tidak menerbangkan saya kesana. 
     Sejumlah pengalaman juga saya temui selama diluar negeri, yang beberapa diantaranya memberikan perubahan bagi saya dalam memaknai kehidupan ini. Salah satu pengalaman bermakna, yakni saat saya bersama keluarga hendak menuju bandara Don Mueang, Thailand. Pagi itu, kami bertiga sedang menunggu bus kota, di kawasan  perhentian bus di sekitar Chatuchak Park, Bangkok. Memang, kami sedikit kebingungan karena tidak tahu bus dari arah mana yang harus digunakan menuju Bandara. Mendapati warga pendatang yang kebingungan seperti kami, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak dengan memegang sebungkus makanan, hendak menolong kami. Setelah mengetahui tujuan kami, pria paruh baya tersebut, dengan sigap membantu menggendong anak saya  ke sebuah bus yang hendak berangkat. Dengan berlari, saya lihat sendiri betapa ia tidak menghiraukan makanan yang ia pegang, sehingga makanan tersebut berceceran ke aspal. Dari atas bus yang mulai berjalan pelan, saya sempatkan mengucapkan terimakasih kepada bapak tadi, yang saya lihat kembali ke sebuah kios jajanan. Sepertinya, ia akan membeli lagi sebungkus makanan pengganti makanannya yang sebelumnya tercecer saat menggendong anak saya. Bagi saya, sulit untuk melupakan momen tersebut dari ingatan. Bahkan, kenangan itu terus membekas dan memberi pelajaran berharga, akan pentingnya membantu orang yang lemah, tanpa memandang apapun kondisi kita saat itu. 
Saat baru naik bus menuju Bandara Don mouang Bangkok
       Sebagai peraih Excellent Servis Experience Award 2014, AirAsia saya nilai juga berhasil menanamkan pola hidup teratur bagi setiap konsumennya, melalui program tiket promonya. Setiap periode promo yang diberikan, AirAsia selalu menyediakan rentang waktu yang cukup lama, baik itu untuk masa booking dan masa terbang. Dengan skema penjualan seperti itu, setiap konsumen jelas diuntungkan dari segi waktu, karena diberikan kesempatan untuk menabung sebagai persiapan liburan. Nah, dalam masa menabung itulah, keteraturan dalam menyisihkan uang, mengatur pengeluaran, benar-benar saya rasakan dan sekarang telah menjadi sebuah kebiasaan.  
       Akhirnya, tidak berlebihan kiranya jika  AirAsia saya anggap sebagai sayap bagi perubahan-perubahan positif dalam hidup saya. Kepak sayap AirAsia, adalah kepak sayap perjalanan hidup saya. Dengan semangat menerbangkan banyak orang yang tercermin lewat taglinenya “Sekarang, Semuanya Dapat Terbang”, saya yakin AirAsia Airline akan banyak dikenang banyak orang, sekarang maupun akan datang. Tahniah Satu Dasawarsa AirAsia !  

Share: